Indonesia telah sejak lama berkampanye dan meminta dukungan dari berbagai negara agar dapat terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Dan sepekan terakhir ini delegasi Indonesia, yang dipimpin langsung Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, telah berada di Amerika untuk melakukan lobby terakhir menjelang pemilihan di Majelis Umum PBB di New York, Jumat pagi (8/6) ini. Secara khusus Retno Marsudi juga datang ke ibukota Washington DC hari Selasa (5/6) untuk melangsungkan pertemuan dengan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo. Ini merupakan pertemuan pertama kedua diplomat tinggi itu pasca penunjukkan Pompeo sebagai menteri luar negeri April lalu. Berbagai isu dibahas dalam pertemuan itu, antara lain tentang kerjasama ekonomi, penanggulangan terorisme, pertahanan, kerjasama di kawasan dan penegasan posisi Indonesia dalam beberapa isu. Secara khusus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga menyerukan dukungan Amerika pada Indonesia dalam pemilihan di Majelis Umum PBB agar terpilih sebagia anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020. Berbeda dengan anggota tetap Dewan Keamanan – yaitu Amerika, Inggris, Perancis, Rusia dan China – yang memiliki hak veto, negara-negara anggota tidak tetap di Dewan Keamanan PBB tidak memiliki hak tersebut. Tetapi sebagaimana juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir ketika dihubungi VOA tahun lalu, keberadaan Indonesia di forum itu dapat ikut memberi pandangan dan menjaga stabilitas global. Selain menyampaikan harapan agar Amerika mendukung Indonesia dalam pemilihan itu, Retno Marsudi juga kembali menekankan posisi Indonesia dalam beberapa isu, antara lain soal Palestina, terutama soal dukungan penuh Indonesia pada perjuangan negara itu. Sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, Retno juga menyampaikan harapan Indonesia agar Amerika dapat menjadi teman dan lebih memperhatikan kepentingan dunia Islam. Situasi di Semenanjung Korea, khususnya rencana KTT Amerika-Korea Utara di Singapura pada 12 Juni nanti, juga menjadi perhatian. Indonesia berharap rencana itu dapat membuahkan hasil menuju denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea karena perdamaian di kawasan itu akan berkontribusi pada stabilitas di kawasan yang lebih luas, termasuk Asia Tenggara. Pengembangan kawasan Indo-Pasifik yang inklusif, mengedepankan kerjasama dan penghormatan pada hukum internasional juga menjadi perhatian kedua pejabat. Isu bilateral Indonesia-Amerika tentunya juga menjadi perhatian luas, antara lain tentang kerjasama ekonomi, penanggulangan terorisme dan pertahanan. Secara khusus Retno Marsudi menekankan pentingnya memberdayakan perempuan dalam upaya pemberantasan terorisme. Tampaknya hal ini merujuk pada semakin banyaknya perempuan yang terlibat dalam kelompok radikal dan bahkan menjadi pelaku teror di Indonesia beberapa bulan ini. Di akhir pertemuan itu Retno Marsudi mengundang Mike Pompeo untuk datang ke Indonesia guna mengikuti “Annual Ministerial Strategic Dialogue” sebagai salah satu implementasi kemitraan strategis kedua negara. [em/al]Original Article