World Health Organization (WHO) telah memperluas kampanye vaksinasi Ebola di Republik Demokratik Kongo yang akan juga mencakup orang-orang berisiko tinggi di tiga daerah. Angka-angka terakhir yang dipublikasikan oleh WHO menegaskan adanya 37 kasus yang sudah dipastikan dan 13 kasus yang diduga Ebola. Sejak awal kampanye vaksinasi Ebola di bulan Mei, World Health Organization (WHO) menyatakan 682 orang telah divaksinasi, di antara mereka yang telah divaksinasi 500 tinggal di Mbandaka, sebuah kota dengan populasi lebih dari satu juta orang. Kampanye vaksinasi ini baru-baru ini telah diperluas sehingga mencakup Bikoro, daerah dimana Ebola pertama kali ditemukan pada tanggal 8 Mei dan zona kesehatan Iboko, yang merupakan daerah paling terpencil di antara ketiga daerah itu. Mereka yang divaksinasi termasuk di antaranya para pekerja kesehatan, dan mereka yang berisiko tinggi untuk terjangkit penyakit fatal ini. Para pejabat WHO mengatakan vaksin ini, yang belum secara resmi disetujui, tampaknya mampu memberikan perlindungan dan meningkatkan harapan bahwa vaksin itu dapat menghentikan penyebaran virus Ebola. Ellen Johnson Sirleaf, yang menjabat sebagai Presiden Liberia saat terjadi epidemi Ebola yang belum pernah terjadi sebelumnya di Afrika Barat, juga memiliki harapan yang sama. Ebola tersebar di Afrika Barat akhir tahun 2013. Saat akhirnya penyebaran virus itu mampu dikendalikan pada tahun 2016, virus tersebut telah merenggut nyawa lebih dari 11.000 orang di Guinea, Sierra Leone, dan Liberia. Liberia kehilangan 4.800 warganya saat terjadi wabah tersebut. Saat berkunjung ke Jenewa awal pekan ini, ia mengatakan kepada VOA sudah ada perbaikan dalam sistem pelaksanaan pelayanan kesehatan, termasuk pengendalian infeksi sejak terjadinya penyebaran wabah Ebola. “Jadi kapasitas untuk mampu menanggapi wabah apapun sekarang sudah lebih baik di negara-negara yang terdampak wabah ini, begitu juga di tempat-tempat lainnya,” imbuhnya. “Saya rasa ada dimensi baru yang penting dalam menanggulangi Ebola dan itu adalah vaksin.” Sirleaf menyatakan uji coba vaksin di Guinea dan sekarang di Republik Demokratik Kongo telah menunjukkan hasil yang memuaskan. “Kami berharap sama dengan negara-negara lainnya Republik Demokratik Kongo akan memiliki kapasitas untuk menanggulangi wabah penyakit ini, untuk menghentikan penyebarannya,” ujarnya. “…. Kami berharap Republik Demokratik Kongo akan mampu melalui situasi ini tanpa efek serius, hasil penting yang kami lihat di tiga negara yang menunjukkan kami tidak siap untuk menghadapi situasi ini.” Perusahaan pembuat vaksin ini, Merck, telah menyumbangkan 7.500 dosis vaksin Ebola ke Republik Demokratik Kongo. Perusahaan itu mengatakan masih ada 300.000 dosis tersedia seandainya ada wabah serius. [ww]Original Article